Islam Iman Ihsan
Lucu sekaligus ironi yang mengiris hati saat saya membaca cerita Buya Hamka mengenai rakyat Indonesia yg beliau tuliskan dalam buku karyanya “Merantau ke Deli”
Buya Hamka menceritakan bagaimana pada masa kolonial, sebagian besar rakyat Indonesia bekerja sebagai budak kuli kontrak. Dan terpotret jelas betapa rakyat Indonesia saat itu sangat menikmati sistem tersebut. Seperti hanya itulah hidup yg mereka tahu, diperbudak, dimanfaatkan dan disiksa dengan paksaan yg semena-mena oleh penjajah.
“Setiap bulannya para kuli budak itu menerima bayaran hanya 30x45 sen yg setiap tgl 15 pun masih terkena potongan blasting. Dan sedikit sen yg mereka terimapun dibawa pulang dengan berseri2”.
Saya bisa merasakan bahwa rakya kita pada masa itu benar-benar buta kesadaran bahwa saat itu sedang dizholimi
Sekilas, potret kebahagiaan menerima sedikit sen dengan berseri-seri tampak sebagai ekspresi qana’ah: sikap menerima dan bersyukur atas apa yang diperoleh.
Akan tetapi, di balik itu saya melihat ada persoalan yang perlu lebih dalam dipahami. Sikap menerima yang tidak disertai dengan kesadaran terhadap ketidakadilan struktural yang berpotensi melanggengkan kezaliman.
Dalam konteks ini, qana’ah tidak lagi menjadi kebajikan spiritual yang membebaskan, melainkan berubah menjadi sikap bodoh dan buta terhadap penindasan.
Hal ini menyentil saya betapa pentingnya memahami nilai-nilai spiritual Islam secara proporsional. Dalam hadist tentang kedatangan Malaikat Jibril yang diriwayatkan oleh Umar bin Khattab (HR. Muslim), agama dijelaskan melalui tiga dimensi utama: Islam, Iman, dan Ihsan. Islam yg berarti kepatuhan lahiriah terhadap syariat; Iman yang merujuk pada pembenaran batin yang menghidupkan keyakinan; sedangkan Ihsan adalah kesadaran spiritual untuk beribadah seakan-akan melihat Allah, atau setidaknya menyadari bahwa Allah senantiasa melihat hamba-Nya.
Dalam tradisi tasawuf, ketiga dimensi ini sering dipahami sebagai fondasi perjalanan spiritual seorang Muslim: dimulai dari pengamalan syariat (pelaksanaan hukum Islam), dilanjutkan dengan proses penyucian jiwa melalui mujahadah dan riyadhah (yang dilakukan melalui tarekat /jalan yg dicontohkan oleh para salaf) hingga mencapai kedalaman kesadaran Ilahiah yang melahirkan manisnya ihsan - yang oleh sebagian ulama disebut sebagai maqam pencapaian hakikat. Dengan demikian, Ihsan tidak berdiri sebagai sikap spiritual yang terlepas dari syariat, melainkan sebagai buah dari keteguhan dalam menjalankan Islam dan penguatan Iman.
Pada titik inilah penting untuk menempatkan nilai-nilai ihsan seperti sabar, syukur, dan qana’ah dalam kerangka syariat yang adil. Spiritualitas yang benar tidak boleh memberi ruang bagi kezaliman, baik terhadap diri sendiri maupun terhadap orang lain. Sebab sebagaimana diingatkan oleh para ulama tasawuf, syariat tanpa hakikat akan menjadi kering dan tandus, sementara hakikat tanpa syariat akan kehilangan landasan dan berpotensi menyimpang.
Refleksi ini pada akhirnya menjadi teguran bagi diri saya sendiri: bahwa ketakjuban terhadap aspek batiniah agama tidak boleh mengabaikan pemahaman terhadap fiqih dan batas-batas syariat. Perjalanan menuju kedalaman spiritual menuntut keseimbangan antara dimensi lahir dan batin, agar Ihsan tidak dimaknai sebagai kepasrahan yang keliru, tetapi sebagai kesadaran yang justru meneguhkan komitmen terhadap keadilan sebagaimana diajarkan dalam Islam.
Semoga Allah mengampuni kekeliruan dan membimbing kita pada jalan para pendahulu yang diridhai-Nya. Aamiin.
Komentar
Posting Komentar